Lounching ISO 9001:2000

Agustus 22, 2008

Setelah 1 bulan yang lalu terbit sertifikat ISO pada hari Rabu tanggal20 agustus 2008  kemerin SMKN3 Buduran mengadakan acara Lounching ISO sekaligus pelepasan siswa magang ke jepang yang dihadiri oleh bupati kab Sidoarjo Bp. Wien Hendrarso,

Sangat meriah acara tersebut dan sekaligus diteruskan dengan acara JSOA oleh siswa SMKN3 Buduran pokoknya ruame deh.

Dengan Lounching ISO ini beban kita semakin besar untuk bisa memberikan layanan masyarakat yang lebih baik se hingga perlu kita semua menyingsingkan lengan baju untuk bertekat menjadikan SMKN3 Buduran ini menjadi SMK yang nantinya benar benar SBI

Kerja keras dan keikhlasan Bapak/ibu guru karyawan yang mengantar semuanya ini bisa berjalan dengan baik tinggal kita menata diri lagi lebih merapatkan barisan untuk bisa saling memikul keberadaan SMKN3 Buduran lebih baik dan lebih baik lagi  seperti STM Perkapalan tempo dulu, Siapa yang menanam dia yang akan menuai begitu kah

we will be the best

Iklan

MARILAH KITA BERSYUKUR

Agustus 16, 2008


Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada supir pribadinya, ”Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?” Si supir menjawab, ”Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai” Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, ”Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”
Supirnya menjawab, ”Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan.”
Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.

Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi ”kaya” dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ”kaya”. Orang yang ”kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.
Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya.
Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Ternyata di luar sana masih banyak sekali rekan-rekan saya yang nasibnya tidak lebih baik dari saya. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Menjadi seorang guru di SMK Negeri 3 Buduran, Sidoarjo.

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi (itu kata saya lho).

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ”Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

saya teringat kata-kata Bapak Tjipto Adi Nugroho MR-ISO SMKN 3 Buduran,

maka jadilah tulisan diatas, Maklum guru praktek kalau nulis belepotan acak-acakā€™an


LOMBA BLOGER LAGI

Agustus 5, 2008

Hari Selasa siang sekolah kami didatangi 2 orang dari telkom Sidoarjo, untuk roadshow lomba pembuatan blog untuk siswa yang ada di sidoarjo, pertemuan dihadiri kayaknya semua siswa TKJ klas 1 2 3 dan beberapa perwakilan kelas untuk mendengarkan uraian mengenai bagaimana ikut dalam lomba tersebut Baca entri selengkapnya »