KARTINI KARTINI

Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.
Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.
Bagaimana dengan kartini kartini di SMKN3 Buduran sudahkah anda menjadi bagian dari cita cita RA kartini

18 Balasan ke KARTINI KARTINI

  1. abimz mengatakan:

    iya nih mana kabar para kartini SMKN3 Buduran,..

    dinegeri kita yang namanya persamaan hak bagi kaum wanita tampaknya masih sebatas wacana saja.dan kaum wanita ,masih enggan untuk menerapkan apa yang dinakan persamaan hak seperti kaum laki2.seperti apa yang saya lihat disini (jpn;red)banyak sekali wanita yang berprofesi sebagai sopir(bus,truk,maupun taksi) bahkan pernah juga ada wanita yang bekerja menjadi tukang faring,padahal klo dilihat dia pantasnya kerja dikantoran.tetapi itulah jpn,ngga ada kata gengsi atau malu selama yang ia lakukan ngga nyalahin aturan.

  2. alex STM mengatakan:

    menyoal Kartini,…..?

    klo kita bicara ‘hak’, tentu adil klo kita jg bicara ‘kewajiban’.cuma sy khawatir di paido banyak orang klo ini diteruskan.
    dlm urusan perjuangan persamaan hak, kita sering tiba-tiba mendengar,membaca bahkan memperhatikan bahwa wanita itu masih banyak terbelenggu, termaginalkan, tertindas, dan entah kata apa lagi. yg ujung-ujungnya mau memperjuangkan ‘hak perempuan’.sy mo daftar ikut mendukung klo urusan ini ada yg jd fasilisator.

    cuma sy agak mikir ketika sadar, bahwa kenyataan teriakan “perjuangkan kesamaan hak perempuan”(sudah 5-10 tahun ini lebih sering dipakai ‘wanita’)kok nggak disertai dg teriakan “perjuangkan kesamaan ‘kewajiban perempuan’…..” ? lalu muncul figur KARTINI yg dlm kisah hidupnya ‘dianggap’ mewakili representasi para perempuan yg masih nuntut tadi.

    MALAHAYATI, CUT NYAK DIEN, para wanita perkasa dari bumhi Andalas ini kurang mengemuka di saat ramai bincang kesamaan hak perempuan.
    MALAHAYATI, menjalani kewajiban(yg secara gholib itu urusan pria/lelaki) sebagai panglima perang satu armada laut melawan penjajah negeri.beliaupun membimbing kaumnya melakukan gerakan penyadaran sosial ‘negeriku kehormatanku’
    CUT NYAK DIEN,sebagai komandan pasukan gerilya di hutan belantara Aceh(karena TEUKU UMAR/suami beliau tertangkap)kewajiban itu beliau jalani, sampai beliau tertangkap dan diasingkan di bhumi parahyangan akibat muslihat belanda. di pengasingan kegiatan beliau malah banyak memberikan bimbingan pada para wanita disitu hal baca tulis,ketrampilan jg menanamkan kesadaran cinta tanah air. ini lalu jadi inspirasi bg DEWI SARTIKA.
    beliau-beliau ini lebih banyak berbuat membuktikan kewajiban daripada ngeluh/curhat akan haknya yg terampas ato hilang………
    hhhhhhhhhhhh………..tanda apa ini sebenarnya ?

  3. jabrixxxx 1ik mengatakan:

    kartini adalah smangat pr kaum hawa di indonesia,krna dia perempuan indonesia mjd setara dng kaum adam,pkoqx KARTINI IS THE BEST,MERDEKAAAAAAAA ANK2 CWEK2 P.A.L SMANGAT TRUS WALAUPUN di antara sekian bxk kaum adam DISANAAA,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!

  4. wong fei hung mengatakan:

    jabrixxxx…..itu cuma identitas rambut,ato cara mikirmu brixx?

  5. Alumni TLK mengatakan:

    @Jabrix dan Wong Fei Hung,

    Kayaknya ini ada permasalahan pribadi yang kebawa kesini :)).

    @ semua yang diskusi masalah Kartini.

    Diskusi tentang emansipasi peremupuan selalu muncul pada saat tanggal 21 April. Upaya mewujudkan persamaan hak yang dulu diperjuangkan Kartini nampaknya mulai memunculkan titik terang. Hal itu dapat dilihat dimana pada saat ini jumlah bangku perkuliahan non-jurusan teknik sudah memberikan rasio yang menempatkan jumlah mahasiswa perempuan lebih banyak dari pria. Namun, fenomena ini tidak lantas membuat kita berkesimpulan bahwa usaha kartini telah berhasil. Kenapa?

    Jika perjuangan kartini itu untuk mendapatkan kesempatan yang sama bagi perempuan maka rasanya kita sudah melihat keberhasilannya. Namun, jika perjuangan adalah HAK, maka kita harus kembali menelaah sebelum kita mengatakan perjuangan itu telah berhasil.

    Karena hak itu sangat banyak dan semua orang subjektif dalam menilainya, maka saya hanya akan melihat satu indikator hak saja. Hak yang akan saya sebutkan adalah berkaitan hak menerima pendapatan atas usaha yang telah dilakukan. Untuk melihat hal itu, saya akan melihat fakta melalui data yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS).

    Menurut Data BPS, gaji pekerja perempuan sampai pada tahun 2007 masih berada 20% lebih rendah dari gaji pekerja laki-laki untuk tingkat pendidikan dan pekerjaan yang sama (non-pns). Jadi apakah ini sudah menunjukkan persamaan hak? dan tentunya masih banyak diskriminasi lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

    Jadi, usaha Kartini ini masih terus dan harus dilanjutkan untuk mewujudkan cita-citanya. Usaha ini tidak bisa hanya dilakukan oleh kelompok perempuan tapi juga harus mendapat jalan dari kelompok satunya.

    matur suwun dan maaf kalo tidak berkenan.

  6. wong fei hung mengatakan:

    @ alumni TLK

    terburu berprasangka, wong jabrixxx, nyengir aj baca tulisan ini kok

  7. wong fei hung mengatakan:

    @ alumni TLK

    yg sy tangkap dari tulisan p alex STM itu, ada yg ingin ditanyakan beliau :klo ada yg berteriak soal ‘persamaan hak’kudu juga menampilkan ‘persamaan kewajiban’.mengapa teriakan ‘persamaan kewajiban’ ini tak dilakukan?.
    nah klo soal gaji perempuan(maaf: bukan perempuk an) lebih rendah dari pekerja laki-laki(data BPS 2007)bisa saja itu ditampilkan sbg alasan adanya ketidak adilan. cuma harus dipahami,klo sekedar nilai kwantitatif yg diangkat apa variabel atas tampilan nilai juga sudah di perhitungkan, misalnya :
    1.jumlah masing-masing kelompok pekerja.
    2.kesetaraan kwalifikasi masing-masing pekerja.
    3.posisi kesetaraan geografis atas upah (penerapan UMR=Upah Minimum Regional/bukan Upah Masih Rendah, atau apapun namanya).itu baru jelas dan jujur menyampaikan.

    akan halnya tuntutan atas ‘HAK’, namanya mahluk hidup itu(termasuk perempuan)memang dilindungi oleh Declaration of Human Right.sayangnya kita lebih canggih ngomong soal HAK AZASI dibanding ngomong KEWAJIBAN AZASI.dan klo mo di matrikulasi lagi soal laki-perempuan,dg soal Kewajiban azasi-Hak azasi akan tampak tautan yg secara jujur harus disandingkan dg mesra.

  8. Alumni TLK mengatakan:

    @ wong fei hung,

    Maaf, saya memang tidak bermaksud untuk mengomentari statement alex STM. Saya cuman mau menyajikan sudut pandang berbeda atas perjuangan kartini.

    Kalo faktor2 itu sudah dimasukkan dalam perhitungan. jadi memang masalah gaji ini tetap mengandung pertanyaan kenapa kok terdapat diskriminasi.

    Terima kasih dan maaf kalo tidak berkenan.

  9. masdhenk mengatakan:

    wah ramene rek..
    kalau saya cuman urun rembug dikit aja, karena emang saya gak begitu tertarik untuk mengangkat lagi adanya hari Kartini dan memang gak begitu pintar juga, wehehehe ( karena emang yang banyak Hari Yadi di STM kita,🙂 )

    Saya gak begitu tertarik dengan issu kartini ini karena yaitu tadi, belum apa apa sudah dijadikan semacam “senjata pamungkas” bagi kaum wanita itu sendiri, sehingga malah membuat kaum ini “melemah”.
    Contoh konkritnya adalah baru baru ini yaitu pemberlakuan jumlah/ prosentase wanita pada parlemen/penentuan caleg ( aku ra pati paham jumlah dan detilnya, harap maklum). Nah saya kira justru dengan pemaksaan2 “kesetaraan semacam ini akan menjadikan wanita itu mandul dan kurang greget, lha gimana gak mandul, setelah diatur jumlah wanita harus sekian persen dan sekian persen, malah ternyata para wanitanya malah hanya dijadikan obyek “pemenuhan jumlah” dengan mengenyampingkan “kualitas” sehingga coba dilihat, setelah dengan penentuan inipun, jumlah caleg perempuan yang kebetulan terpilih hanya sedikit, karena memang para wanita ternyata juga belum “siap tanding” di ajang ini.

    Nah diatas hanya contoh kecil dimana masalah maslah ini saya kira sudah gak relevan lagi, karena tanpa diingatkan sekalipun, para wanita ini akan terpacu dan berkarya dan dengan sendirinya akan “tampil” pada saat yang tepat dan pada tempat yang tepat.

    oh ya bagi temen temen alumni, silakan join group stm negeri 3 buduran sidoarjo dan silakan siapa saja yang mau ikutan kelola dan mengisinya

  10. aphal mengatakan:

    ya……….. “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG” dan semoga selalu terang terus dg saling terus terang.

    maju terus wanita Indonesia!

    sepertinya wanita Indonesia sekrang sudah banyak melangkah maju dr zamannya Kertini. kita sdh pernah punya presiden wanita(terlepas dia terpilih krena kemampuannya or backround keluarganya? whatever) sedang Jepang( sprt yg pernah saqya baca) parlemennya bingung bisakah rakyatnya menerima klo kaisarnya adalah wanita(jika nanti tidak ada pewaris tahta llaki2)
    emansipasi bagus. asal jgn lupa diri sprt dalam salah satu lirik lagu DEWA19 “jangan pernah ingkari dirimu adalah wanita”

  11. smkn3buduran mengatakan:

    Kami sangat bangga blog ini dijadikan diskusi dan mengeluarkan segala pendapat lepas dari pro kontra sangat dinamis tanks semuanya

  12. divaindriastutik mengatakan:

    tolong dibales ea

    hem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: